MANFAAT TEORI MOTIVASI

  1. MANFAAT TEORI MOTIVASI

 

Dalam setiap teori memiliki manfaat baik secara instrinsik maupun ekstrinsik. Motivasi instrinsik ini muncul di dalam setiap persona apabila dirinya memiliki kesadaran untuk mencapai tujuan. Kesadaran inilah yang menumbuhkan diri seseorang untuk melakukan dan memacu dirinya harus konsisten, fokus dan berdaya saing demi tujuan ke depan. Untuk mencapai hal tersebut seseorang memiliki keinginan yang kuat dan arah tujuan yang harus dicapai. Teori yang hampir searah juga dipaparkan oleh Rizal Majid bahwa “motivasi intrinsik merupakan dasar seseorang mengerjakan sesuatu untuk mencapai tujuan pribadinya. Dengan kata lain, seseorang berbuat sesuatu tanpa adanya faktor motivasi dari orang lain.”  Sedangkan seseorang juga dapat termotivasi karena orang lain atau disebut dengan sebutan “motivasi ekstrinsik.” Motivasi ini dilakukan karena ada yang membuat seseorang dapat terpacu dan melihat lingkungan sekitar sebagai hal yang dapat membangun pribadinya. Baik dari segi kinerja kerja, pengetahuan maupun dari segi talenta yang dimiliki orang lain. Dalam arti bahwa motivasi ekstrinsik ada karena pengaruh dari orang lain (lingkungan masyarakat dan team)

Dengan demikian ada beberapa manfaat teori Motivasi, antara lain:

  1. Terpacu melakukan hal – hal baru[1]

Di dalam setiap individu memiliki keinginan – keinginan untuk malakukan hal – hal yang membangun. Sikap inilah yang dapat mengubah seseorang/individu untuk terus berjuang. Memperlihatkan niat dan kemauan yang tinggi untuk terus melakukan tindakan yang positif.

Dengan adanya teori ini seseorang menyadari bahwa dirinya dapat mampu melakukan hal positif dikarenakan adanya niat yang timbul dari dalam diri individu untuk melakukan. Sikap ini dapat terlaksana apabila ada niat dan mengenal diri sendiri sebagai individu yang mampu berbuat. Memang tidak semua indvidu mampu untuk mencapai hasil yang sempurna tetapi dari niat dan itulah memperlihatkan eksistensinya sebagai individu yang aktif.

 

  1. Berpikir aktif[2]

Belajar teori ini membantu individu untuk aktif bukan over confidence, tetapi berpikir bahwa di dalam dirinya sebenarnya mampu untuk melakukan hal – hal yang baru. Pembelajaran yang dapat diambil salah satunya adalah Abraham Maslow[3] yang memiliki keaktifan dalam belajar. Memiliki keinginan untuk terus belajar behaviorisme.[4] Walaupun Maslow tidak memiliki banya teman dan lebih banyak menghabiskan waktu untuk membaca buku. Hal ini pun disebabkan karena Maslow seorang laki – laki Yahudi dan hidup di perkampungan non-Yahudi.[5] Jadi manfaatnya adalah aktif dan bertindak untuk terus belajar dalam situasi apapun (long life education).

 

  1. Adanya reformasi hidup

Pembelajaran yang diperoleh setelah belajar teori motivasi adalah perubahan kehidupan ke arah yang lebih baik. Hal ini penting dikarenakan setiap individu harus menyadari identitas dirinya sebagai manusia yang berpikir dan tidak seperti ciptaan yang lain. Identitas inilah yang membedakan manusia dengan ciptaan lain. Sebab manusia mampu bernalar, bertindak, merasakan dan adanya tujuan hidup ke depan. Hal – hal demikian terjadi apabila individu memahami kepribadian sendiri sebagai ciptaan yang istimewa dan berharga. Perubahan individu inilah yang tampil dan yang dilihat oleh lingkungan dan sesama.

Perubahan yang baik adalah perubahan yang menuju kepada nilai dan kualitas dan bukan sebaliknya. Kualitas reformasi seseorang juga dapat memberikan dampak yang baik bagi lingkungan sekitarnya.

 

  1. Keinginan untuk mampu menjadi lebih

Keinginan individu mampu memberikan faedah bagi sesama. Faedah inilah yang memperlihatkan bahwa individu ini bernilai dan mampu melakukan hal yang lebih. Seperti dikatakan Maslow bahwa: “The desire to become more and more what one is, to become everything that one  is capable of becoming[6] sehingga keinginan untuk menjadi lebih baik itu timbul karena motivasi dari dalam diri individu. Keinginan inilah juga merupakan bagian akan pengertian individu untuk memperjelas identitasnya bahwa pasti bisa melakukan hal yang baru.

 

 

  1. Memiliki sikap Optimis

Optimisme adalah suatu sikap yang lahir dari dalam diri individu yang merupakan sikap terhadap masalah yang sedang dihadapi. Sikap terhadap sesuatu mengandung unsur penilaian (positif atau negatif). Sikap optimisme merupakan pilihan yang dimunculkan seseorang dalam mempersepsikan masalahnya. Sikap optimis bertolak belakang dengan sikap pesimis yang berorientasi pada sikap yang negatif.[7] Teori motivasi mampu memberi sikap optimis di dalam kehidupan individu. Tidak menyerah dalam menghadapi persoalan hidup disebabkan ada tujuan yang harus dicapai dan menyadari di dalam kehidupan yang baik ada kegagalan – kegagalan yang menjadi hambatan.

Jadi, dapat disimpulkan bahwa manfaat teori motivasi sangat memberikan pengaruh yang baik bagi setiap individu. Hal ini disebabkan faktor dari dalam dan dari luar individu tersebut.

 

 

  1. Motivasi dan Motif

Menurut Hadari Nawawi, Motivasi (motivation) berakar dari dasar motif   ( motive) yang berarti dorongan sebab atau alasan seseorang melakukan sesuatu, biasanya motif itu diwujudkan dalam berbagai tindak tanduk seseorang. Motivasi merupakan daya dorong bagi seseorang untuk memberikan kontribusi yang sebesar mungkin demi keberhasilan organisasi dalam mencapai tujuan. (Kurniadi dan  Machali, 2012 : 333)

Ilyas mengartikan motivasi sebagai suatu kondisi kejiawaan dan mental seseorang berupa kenginan, harapan, dorongan dan kebutuhan yang membuat seseorang melakukan sesuatu untuk mengurangi kesenjangan yang dirasakan. (Kurniadi dan  Machali, 2012 : 333)

Berkaitan dengan uraian tersebut, maka Siagian dalam bukunya Teori Motivasi dan Aplikasinya (2012:138) mendefinisikan motivasi sebagai berikut:

Motivasi adalah daya pendorong yang mengakibatkan seseorang anggota organisasi mau dan rela untuk mengarahkan kemampuan dalam bentuk keahlian atau keterampilan — tenaga dan waktunya menyelenggarakan berbagai kegiatan yang menjadi tanggung jawabnya dan menunaikankewajibannya, dalam rangka pencapaian tujuan dan berbagai sasaran organisasi yang telah ditentukan sebelumnya.

Dengan demikian motif adalah suatu dorongan yang menyebabkan   organisasi atau individu melakukan suatu tindakan atau tingka laku karena organisasi atau individu tersebut memiliki suatu  keinginan atau tujuan yang ingin di capainya.

Sedangkan motivasi adalah dorongan psikologis yang mengarahkan seseorang ke arah suatu tujuan yang telah di tetapkan sebelumnya.

  1. Teori MotivasI
    a. Teori Abraham Maslow (1943-1970)

    Riwayat hidup

Abraham Maslow adalah anak pertama dari tujuh bersaudara. Orangtuanya adalah imigran berkebangsaan Yahudi. Ia adalah seorang siswa yang cerdas pada saat itu bahkan mencapai skor IQ sampai 195. Ia pernah studi di Fakultas Hukum di city College,  Universitas Wisconsin (bidang Psikologi ilmiah) dan memiliki kerinduan untuk berjuang secara berkala dalam mencapai cita – citanya.[8]

 

  1. Teori Motivasi Maslow

Motif dan motivasi memiliki arti yang berbeda. Istilah motif menunjukkan suatu dorongan yang timbul dari dalam diri seseorang yang menyebabkan orang tersebut melakukan sesuatu. Sedangkan motivasi adalah suatu usaha yang dilakukan untuk mempengaruhi tingkah laku seseorang agar ia tergerak hatinya untuk bertindak sehingga mncapai hasil atau tujuan tertentu.[9]  Dalam penjelasannya ada lima tingkatan dalam kebutuhan poko manusia, yakni:

  1. Physiological Needs (kebutuhan Fisiologis)

Adalah sekumpulan dasar yang mendesak pemenuhannya karena berkaitan langsung dengan kelangsungan hidup manusia. Kebutuhan itu adalah: makan, minuman, O2, istrahat dan tempat berteduh. Kebutuhan ini sangat perlu dan mendasar di dalam kehidupan individu dan Maslow menyebutkan nya sebagai kebutuhan dasar manusia  diatur dalam sebuar hierarki yang bersifat relatif.[10] Berarti kebutuhan ini harus tetap terpenuhi untuk menjalani hidup sehari-hari.

  1. Safety Needs (Kebutuhan akan rasa aman)

Maksudnya adalah kebutuhan yang mendorong individu untuk memperoleh ketentraman, kepastian dan keteraturan dari lingkungannya.[11] Dalam menjalani kehidupan setiap individu selalu membutuhkan kenyaman di dalam aspek kehidupan. Hal ini jelas terlihat di dalam kehidupan di lingkungan sosial, dan juga keluarga.

  1. Need for love and Belongingness (Kebutuhan akan cinta, memiliki dan kasih sayang)

Hubungan ini berkaitan dengan afektif atau ikatan emosional dengan individu lain. Bagi Maslow menjelaskan bahwa individu itu perlu “the love needs involve giving and receiving affection[12] Sama halnya dengan seorang anak yang membutuhkan kasih sayang di dalam keluarga. Hubungan dan ikatan di dalam keluarga inilah yang dibutuhkan anak.

  1. Esteem Needs (Kebutuhan akan harga Diri)

Kebutuhan ini meliputi dua hal, yakni: for self respect or self esteem, and for the esteem of others.[13] (harga diri dan penghargaan dari orang lain). Setiap individu membutuhkan kedua hal di atas, bahkan pengakuan dari lingkungan sekitar.

  1. Need for Self Actualization (Kebutuhan akan aktualisasi diri

Aktualisasi diri dapat diartikan sebagai perkembangan individu yang paling tinggi, mengembangkan potensi yang ia miliki dan menjadi apa saja menurut kemauannya.[14]  Setiap inidividu mampu melakukan aktualisasi diri dengan melakukan yang terbaik.

 

  1. Teori Motivasi Herzberg (1966)

Teori ini menjelaskan dua faktor yang mendorong individu untuk berusaha mencapai harapan kepuasan dan menjauhkan diri dari kepuasan adalah:

  1. Faktor higiene (faktor Ekstrinsik)

Individu berusaha keluar dari ketidakpuasan, baik di dalam relasi sesama, imbalan maupun situasi lingkungan. Beberap hal ini dapat memberikan dampak bagi individu untuk bergaul dan bertindak.

  1. Faktor motivator (faktor Instrinsik)

Individu mencapai kepuasan dan penerimaan diri, termasuk pengakuan, kemajuan tingkat kehidupan dan keinginan yang harus terus dipenuhi.

 

  • Teori Motivasi Douglas McGregor

Teori ini berasumsi bahwa: Gaya manajemen suatu perusahaan sangat dipengaruhi oleh keyakinan dan asumsi manajemennya terhadap apa yang merupakan dorongan kerja karyawannya. Jika manajemennya yakin bahwa sebagian dari karyawannya tidak menyukai pekerjaannya , maka gaya manajemen akan cenderung ke gaya manajemen otoriter.[15] Ada dua teori yang ditemukannya adalah:

  1. Teori X : Teori X ini menyatakan bahwa pada dasarnya karyawan yang bekerja pada suatu perusahaan secara alami tidak termotivasi dan tidak suka bekerja. Gaya Manajemen ini menyimpulkan bahwa pekerja pada dasarnya :
  2. Tidak suka bekerja.
  3. Perlu diawasi, dipaksa, diperingatkan untuk mengerjakan pekerjaannya.
  4. Membutuhkan pengarahan dalam melaksanakan tugasnya.
  5. Tidak menginginkan adanya tanggung jawab.
  6. Tugas yang diberikan harus diawasi setiap langkah pengerjaannya
  7. Teori Y

Teori  ini menyatakan bahwa pada dasarnya karyawan yang bekerja pada suatu perusahaan menyenangi pekerjaannya, termotivasi, kreatif, bangga terhadap hasil kerjanya yang baik, bekerja penuh dengan tanggung jawab dan senang untuk menerima tantangan. Dengan asumsi dan anggapan demikian, maka manajemen akan cenderang menggunakan gaya manajemen partisipatif.[16]

Teori Y ini beranggapan bahwa karyawannya :

  1. Bertanggung jawab penuh atas semua pekerjaannya dan memiliki motivasi yang kuat untuk mengerjakan semua pekerjaan yang diberikan kepadanya.
  2. Hanya memerlukan sedikit bimbingan atau bahkan tidak memerlukan bimbingan dalam menyelesaikan tugasnya.
  3. Beranggapan bahwa pekerjaan adalah bagian dari hidupnya.
  4. Dapat menyelesaikan tugas dan masalah dengan kreatif dan imajinatif.[17]

Jadi, teori ini saling berlawan arah, teori X bersifat otoriter dalam memimpin sedangkan teori Y bersifat partisipator.

 

  1. Teori Motivasi Vroom (1964)

Teori ini membahas tentang cognitive theory of motiavtion bahwa ada alasan seseorang tidak melakukan sesuatu. Komponen itu adalah:

  1. Harapan keberhasilan tugas
  2. Penilaian tentang apa yang akan terjadi dalam sebuah tugas
  3. Valensi (respon terhadap outcome seperti perasaan positif, netral atau negatif)

Jadi teori ini menjelaskan tentang kehidupan individu yang selalu berjuang dalam mengerjakan sesuatu tugas dan harus adanya penilaian dari luar.

 

  1. Teori kebutuhan McClelland

Teori tersebut berfokus pada tiga kebutuhan: pencapaian, kekuatan, dan hubungan yang didefinisikan sebagai berikut :

  • Kebutuhan pencapaian (need for achievement): Dorongan untuk melebihi, mencapai target, berusaha keras untuk berhasil.
  • Kebutuhan kekuatan (need for power): Kebutuhan untuk membuat individu lain berperilaku sedemikdian rupa sehingga mereka tidak akan berperilaku sebaliknya.
  • Kebutuhan hubungan (need for affiliation): Keinginan untuk menjalin suatu hubungan antarpersonal yang ramah dan akrab.[18]

Teori ini berpusat kepada kebutuhan yang dapat dirasakan oleh individu.

 

  1. Teori ERG (Clayton A. E.R.G)

Teori ERG dikemukakan oleh Clayton Alderfer seorang psikolog asal Amerika Serikat, kelahiran 1 September 1940, dimana teori ini merupakan simplifikasi dan pengembangan lebih lanjut dari teori hirarki kebutuhan Abraham Maslow.

  • E (Existence atau keberadaan)
  • R (Relatedness atau hubungan)
  • G (Growth atau pertumbuhan)

Menurut teori ERG, dapat saja makin tidak terpenuhinya suatu kebutuhan tertentu, makin besar pula keinginan untuk memuaskannya. [19]

 

  1. Teknik Motivasi (Pendekatan Motivasi)

Kurniadi dan  Machali (2012 : 352) mengemukakan teknik motivasi atau pendekatan motivasi sebagai berikut  :

  1. Model atau Teknik Tradisional

Teknik ini merupakan bentuk usaha yang di tempuh oleh para manajer atau pemimpin  untuk membuat bagaimana bawahan dapat menjalankan pekerjaan mereka yang  membosankan dan berulang-ulang dengan cara yang paling efisien.

  1. Model atau teknik Hubungan Manusiawi

Teknik ini lebih menekankan kepada para pimpinan untuk bisa memotivasi kepada bawahan dengan mengakui  kebutuhan sosial mereka dan membuat mereka merasa penting dan berguna.

  1. Teknik Sumber Daya Manusia

Teknik ini mengakui bahwa bawahan dianggap sebagai individu yang memiliki motivasi  tidak hanya karena uang dan pretise saja, tetapi menganggap bahwa bawahan memiliki dorongan untuk melaksanakan pekerjaan dengan baik

 

  1. Praktek Motivasi

Dalam suatu perusahaan yang karyawannya tidak selalu di awasi dalam melakukan pekerjaan. Tetapi adanya motivasi sendiri untuk mengerjakan tugas tanggung jawab yang harus dilakukan. Hal ini berkaitan dengan teori Maslow dan teori X dan Y. Karena kedua hal ini jika dilakukan dengan positf maka ada dampak yang berfaedah bagi setiap individu.

 

 

 

DAFTAR KEPUSTAKAAN

 

 

A.M., Sadirman,

2001    Interaksi Dan Motivasi Belajar Mengajar, Grafindo Persada: Jakarta.

Cofer. Charles.,

1996    Motivation and Emotion, Scott Foresman Company: London

Goble, Frank G.,

1995    The Third Force: The Psycology of Abraham Maslow, Terjemahan A.Supratiknya, Mazhab Ketiga Psikologi Humanistik Abraham Maslow, Yogyakarta: Kanisius.

Koeswara, E.,

1991    Teori-teori Kepribadian, Bandung: Eresco

Maslow, Abraham Harold.,

1993   Motivation anf Personality, terj. Nurul Iman, Motivasi dan Kepribadian 1, Bandung: Remaja Rosda Karya

Machali, Kurniadin, Didin.,

            2016    Manajemen Pendidikan, Konsep dan Prinsip Pengelolaan Pendidikan.

AR-RUZZ MEDIA. Jogjakarta

 

Purwanto, M. Ngalim.,

1993    Psikologi Pendidikan, Bandung: Rosdakarya

Schultz, Duena .,

1991    Growth Psychology: Models of The Healthy Pesonality, terj. Yustinus, Psikologi Pertumbuhan, Yogyakarta: Kanisius

 

 

Internet:

https://psychologymania.wordpress.com/2011/07/11/optimisme-optimism/ diakses tanggal 5 Februari 2018

http://ilmumanajemenindustri.com/teori-x-dan-teori-y-menurut-douglas-mcgregor/ diakses tanggal 5 Februari 2018

http://pasca.unhas.ac.id/jurnal/files/1554236aaaa372f424b662cf83f097e4.pdf diakses tanggal 6 Ferbruari 2018

http://mulyadi52e.blogstudent.mb.ipb.ac.id/files/2014/11/OSDM-2-ERG_rev.pdf. diakses tanggal 6 Ferbruari 2018

[1] M. Ngalim Purwanto, Psikologi Pendidikan, Bandung: Rosdakarya, 1993) hlm.61

[2]Sardiman A.M., Interaksi dan Motivasi belajar mengajar, (Grafindo Persada: Jakarta, 2001), hlm. 72

[3] Abraham Harold Maslow adalah seorang  tokoh yang banyak mambahas tentang motivasi dan lahir di Brooklyn, USA pada tanggal 1 April 1908.

[4] E.Koeswara, Teori-teori Kepribadian, (Bandung: Eresco, 1991), hlm. 110.

[5] Frank G. Goble, The Third Force: The Psycology of Abraham Maslow, Terjemahan A.Supratiknya, Mazhab Ketiga Psikologi Humanistik Abraham Maslow, (Yogyakarta: Kanisius, 1995), hlm. 29

[6] Charles and Cofer, Motivation and Emotion, (Scott Foresman Company: London, 1996), hlm. 133.

[7] https://psychologymania.wordpress.com/2011/07/11/optimisme-optimism/

[8] Frank G. Goble, Op.Cit hlm. 133

[9] Ngalim Purwanto, Op.Cit.,hlm 61

[10] Abraham Maslow, Motivation anf Personality, terj. Nurul Iman, Motivasi dan Kepribadian 1, (Bandung: Remaja Rosda Karya, 1993), hlm. 43-56.

[11] Ibid.

[12] Abraham Maslow, Op Cit. hlm.20

[13] E. Koeswara, Op.Cit.,hlm. 123

[14] Duena Schultz, Growth Psychology: Models of The Healthy Pesonality, terj. Yustinus, Psikologi Pertumbuhan, (Yogyakarta: Kanisius, 1991), hlm. 93

[15] http://ilmumanajemenindustri.com/teori-x-dan-teori-y-menurut-douglas-mcgregor/

[16] Ibid.,

[17]Ibid.,

[18] Eko Nugroho, Pengaruh Coaching Terhadap Motivasi Kerja dan Kinerja Individual, Jurnal (http://pasca.unhas.ac.id/jurnal/files/1554236aaaa372f424b662cf83f097e4.pdf)

[19] Erichson H Silitonga, Organisasi dan Manajemen Sumberdaya Manusia, Jurnal  (http://mulyadi52e.blogstudent.mb.ipb.ac.id/files/2014/11/OSDM-2-ERG_rev.pdf)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s